Momentum Hardiknas, LPA Generasi Dorong Pemerataan Pendidikan

Nasional /

RABU, 02/05/2018 11:20 WIB

JAKARTA, DAKTA.COM – Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap tanggal 2 Mei. Ketua Lembaga Generasi Ena Nurjanah menyoroti masih belum meratanya pendidikan di Indonesia.
Dalam keterangan persnya pada Rabu (2/5), Ena berpendapat hingga hari ini keistimewaan dari peringatan Hardiknas masih kurang dirasakan penduduk negeri ini karena evaluasi dunia pendidikan tidak pernah dilakukan secara menyeluruh, selalu parsial.
“Dunia pendidikan di negeri ini belum dipandang sebagai bagian Maha Penting bagi kemajuan peradaban suatu bangsa. Wajar saja kalau capaian kemajuan dunia pendidikan di negeri kita belum dapat dirasakan oleh seluruh rakyat dari berbagai kalangan,” papar Ena.
Ena menyoroti, masih banyaknya persoalan dunia pendidikan mulai dari sarana dan prasarana sekolah yang selalu jadi persoalan abadi yang tidak pernah selesai.
“Selain itu, persoalan antara guru dan murid menjadi konflik multi kasus, dari relasi yang semakin memburuk karena guru yang semakin tidak berdaya dihadapan murid dengan adanya UU Perlindungan Anak. Hingga relasi yang tak wajar antara guru dan murid yang berdampak kasus amoral,” ungkapnya.
Terlebih lagi, lanjut Ena, intervensi yang terlalu dominan dari para pihak yang punya kepentingan dan punya akses mudah terhadap kebijakan dunia pendidikan, namun minim pemahaman akan dunia pendidikan.
Reporter :Boy Aditya
Editor :Asiyah Afifah

Bapak Tendang Anak di Play Ground, Itu Sikap Kurang Tepat

Minggu, 29 April 2018 13:54 WIB

AKURAT.CO, Ketua Umum Lembaga Gerakan Perlindungan Anak Asa Negeri (Generasi), Ena Nurjanah menilai sikap seorang bapak menendang anak laki-laki yang sedang bermain ayunan, lantaran mengenai anak perempuannya sampai terjatuh terlalu berlebihan. Menurut dia, harusnya bapak tersebut menegur dengan cara yang baik tanpa mengedepankan kekerasan.

Kejadian yang terjadi di Mal Kelapa Gading itumenjadi topik yang ramai dibahas dan videonya sempat viral di media sosial.

“Cara bapak menegur anak laki-laki  itu kurang tepat. Bukan dengan  tindakan kasar, tapi peringatkan anak itu baik-baik agar bermainnya lebih hati-hati,” sesal Ena saat dihubungi AKURAT.CO, Minggu (29/4).

Selain itu, kata Ena, seorang ibu yang memiliki anak laki-laki di ayunan tersebut harusnya memperingatkan anak untuk tidak bermain terlalu kencang karena bisa membahayakan dirinya dan anak-anak lain.

“Apalagi play groundnya pun tidak terlalu besar dan banyak anak-anak lalu lalang disekitar ayunan,” katanya.

Menurut Ena, meskipun ada ketersediaan tempat bermain di mall bukanberarti orangtua membiarkan anak bermain tanpa memperhatian mereka.

“Orangtua harus bisa menunjukkan sikap saling menjaga anak-anak dan menghargai satu sama lain dalam situasi tersebut, bukan malah mempertontonkan perkelahian antar orangtua di depan anak-anak,” sesalnya.

Sebelumnya adalam Video pendek yang tersebar itu adalah rekaman CCTV yang memperlihatkan seorang bapak menendang anak laki-laki yang sedang bermain ayunan, lantaran mengenai anak perempuannya sampai terjatuh.

Kemudian, satu video yang lain, merupakan rekaman adu mulut antara ibu si anak laki-laki dan bapak si anak perempuan. Si ibu tidak terima anaknya ditendang sementara si bapak merasa bahwa anak laki-laki itu memang salah.[]

Polisi Diminta Usut Tuntas Kasus Bocah Curi Uang di ATM

Dedi Ermansyah 
Sabtu, 28 April 2018 10:37 WIB

AKURAT.CO, Ketua Umum Lembaga Gerakan Perlindungan Anak Asa Negeri (Generasi), Ena Nurjanah, mendesak aparat kepolisian mengusut kasus aksi pencurian oleh dua anak kecil di gerai mesin  ATM yang viral di media sosial beberapa waktu terkahir ini.

“Apa yang telah dilakukan oleh anak-anak ini sudah jelas merupakan sebuah pelanggaran pidana, pemerintah melalui dinas terkait harus segera menangani kasus ini secara serius karena perilaku tersebut sangat buruk bagi masa depan mereka,” kata Ena Nurjanah di Jakarta, Sabtu (28/4).

Ena meyakini, dibalik kasus pencurian ATM oleh anak-anak tersebut ada orang-orang yang mengajari sehingga terlihat seperti pencuri yang sudah terlatih. Bila terbukti, anak-anak tersebut bisa dikenakan hukuman pidana 10 tahun penjara.

“Selain menyelamatkan para anak-anak itu untuk diberikan penyuluhan, yang lebih penting lagi adalah mencari dalang yang telah menjerumuskan anak-anak tersebut menjadi pencuri,” pungkasnya.

“Pihak berwenang harus segera bertindak agar tidak semakin meluas dan menjadi kerawanan sosial baru di sekitar mesin ATM karena disinyalir sudah beberapa orang yang menjadi korban di wilayah Makassar,” katanya.

Diketahui, baru-baru ini viral video aksi pencurian oleh dua anak kecil di gerai mesin  ATM. Peristiwa tersebut diketahui terjadi di ATM BRI di Jalan Perintis Kemerdekaan, tepatnya di depan Pesantren IMMIM, Makassar.

Dalam video tersebut memperlihatkan bagaimana dua anak gelandangan yang masuk kedalam gerai ATM meminta uang pada dua orang ibu-ibu yang  hendak mengambil uang di ATM.

Dua anak itu terlihat seperti  mengganggu konsentrasi ibu pengambil ATM, berusaha meminta-minta uang dan tangan mereka seolah-olah tanpa sengaja menekan tombol di ATM dan dua anak tersebut juga saling  menutupi perbuatannya.

Pada akhir video itu ditunjukkan ternyata para ibu merasa tidak berhasil mengambil uang langsung pergi, sementara dua anak yang tetap berada di dalam gerai  ATM ternyata menunggu hingga kemudian uang keluar dari mesin ATM.[]

LPA Generasi Desak Aparat Tangkap Dalang Pencurian ATM

Nasional /

JUM’AT, 27/04/2018 11:56 WIB

JAKARTA, DAKTA.COM – Baru-baru ini video aksi pencurian oleh dua anak kecil di gerai mesin ATM menjadi viral. Peristiwa ini terjadi di ATM BRI di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar.
Menanggapi hal ini, Ketua Lembaga Gerakan Perlindungan Anak Asa Negeri (Generasi), Ena Nurjanah, mendesak aparat kepolisian mencari dalang dibalik kasus ini.
“Saya meyakini bahwa anak-anak ini ada yang ngajarinya, karena nggak mungkin anak-anak seperti itu mengerti bagaimana cara menggunakan mesin ATM,” paparnya saat dihubungi oleh dakta.com pada Jumat (27/4).
Maka dari itu selain mendesak agar aparat kepolisian mencari siapa dalang dibalik modus pencurian ATM dengan memperalat anak-anak ini, Ena juga mendorong dinas sosial setempat memberikan penyuluhan kepada anak-anak tersebut.
“Perilaku ini sangat membahayakan terhadap masa depan mereka, dinas terkait itu harus segera turun tangan. Pelaku eksploitasi anak ini dapat dijerat hukuman penjara maksimal selama 10 tahun,” tegasnya.
Dalam sebuah video yang beredar di sosial media, memperlihatkan dua orang anak gelandangan masuk ke dalam gerai ATM meminta uang pada ibu-ibu yang hendak mengambil uang di ATM,
namun tangan mereka seolah-olah tanpa sengaja menekan tombol di ATM.
Pada akhir video itu para ibu merasa tidak berhasil mengambil uang langsung pergi, sementara dua anak yang tetap berada di dalam gerai ATM ternyata menunggu hingga kemudian uang keluar dari mesin ATM.**
Reporter :Boy Aditya
Editor :Asiyah Afifah

Pernikahan Dini, LPA Generasi: Seharusnya Tak Terjadi

April 15, 2018

BEKASI, POSBEKASI.COM – Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Generasi (Gerekan Perlindungan Anak Asa Negeri) Ena Nurjanah, menanggapi terkait yang sedang menjadi perhatian Kementrian Perlindungan Anak karena usianya yang belum menginjak 18 tahun, ingin minikah.

Sebagai Praktisi Perlindungan Anak ia mengatakan, batas minimal usia pernikahan dalam undang-undang perlindungan anak dalam kasus tersebut merupakan pernikahan dini yang seharusnya tidak terjadi.

KLIK : Dua Pria Nekad Mencuri Untuk Modal Nikah

“Dalam kasus ini perlu adanya peran serta orang tua, yang didampingi oleh Dinas Sosial dan Perlindungan Anak setempat, agar memberikan pemahaman bagaimana mengatasai kedua anak ini,” papar Ena dalam Sketsa Pagi di Radio Dakta, Ahad 15 April 2018.

Menurutnya dalam kasus ini tidak cukup hanya melarang anak tersebut, tapi harus memberikan gambaran untuk kedepannya.

KLIK : Malu Melahirkan, Mahasiswi Yogya Asal Lampung Telantarkan Bayinya di Bekasi

“Karena anak usia tersebut sudah bisa berfikir walaupun belum matang,” ucapnya.

Sebelumnya diberitakan Sepasang kekasih berusia muda di Bantaeng memilih untuk menikah. Usia calon pengantin pria baru 15 tahun 10 bulan dan wanita masih 14 tahun 9 bulan. Pihak KUA setempat sempat menolak, namun mereka mengajukan permohonan dispensasi kepada Pengadilan Agama Bantaeng dan dikabulkan.[dakta]

LPA Generasi: Pernikahan Dini Seharusnya Tidak Terjadi

Bekasi / Kota /

AHAD, 15/04/2018 10:58 WIB

BEKASI, DAKTA.COM – Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Generasi (Gerekan Perlindungan Anak Asa Negeri) Ena Nurjanah, menanggapi terkait yang sedang menjadi perhatian Kementrian Perlindungan Anak karena Usianya yang belum menginjak 18 tahun, ingin minikah.
Sebagai Praktisi Perlindungan Anak ia mengatakan, batas minimal usia pernikahan dalam undang-undang perlindungan anak dalam kasus tersebut merupakan pernikahan dini yang seharusnya tidak terjadi.
“Dalam kasus ini perlu adanya peran serta orang tua, yang didampingi oleh Dinas Sosial dan Perlindungan Anak setempat, agar memberikan pemahaman bagaimana mengatasai kedua anak ini,” papar Ena dalam Sketsa Pagi di Radio Dakta, Ahad (15/4)
Menurutnya dalam kasus ini tidak cukup hanya melarang anak tersebut, tapi harus memberikan gambaran untuk kedepannya.
“Karena anak usia tersebut sudah bisa berfikir walaupun belum matang,” ucapnya.
Sebelumnya diberitakan Sepasang kekasih berusia muda di Bantaeng memilih untuk menikah. Usia calon pengantin pria baru 15 tahun 10 bulan dan wanita masih 14 tahun 9 bulan. Pihak KUA setempat sempat menolak, namun mereka mengajukan permohonan dispensasi kepada Pengadilan Agama Bantaeng dan dikabulkan.
Editor :Asiyah Afifah
Sumber :Radio Dakta

LPA Generasi: Anak Pelaku Kejahatan Hanya Korban Lingkungan

Bekasi / Kota /

AHAD, 15/04/2018 09:50 WIB

BEKASI, DAKTA.COM – Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Gerakan Perlindungan Anak Asa Negeri (Generasi) merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak dalam bidang perlindungan anak dan hak-hak anak.
LPA Generasi ini memiliki visi misi yaitu, Terpenuhinya tumbuh kembang anak secara optimal serta hak anak agar terlindung dari kekerasan dan diskriminasi.
Ketua Umum LPA Generasi, Ena Nurjanah mengatakan awal mendirikan lembaga ini karena dirinya memiliki perhatian terhadap anak Indonesia.
“Saya melihat banyak kasus pada anak yang belum terselesaikan, dan saat ini semakin beragam kekerasaan yang terjadi pada anak, baik anak menjadi korban atau menjadi pelaku, walaupun anak menjadi pelaku tapi sebenarnya anak hanya menjadi korban lingkungan,” paparnya saat Sketsa Pagi di Radio Dakta, Ahad (15/4).
Ena menyampaikan, tujuan dari lembaga ini untuk memberikan bantuan kepada para korban dan konseling kepada anak yang membutuhkan serta melakukan sosialisasi terhadap undang-undang perlindungan anak.
Sementara itu, saat ini masih banyak anak-anak pinggir jalan yang terlantar dan membutuhkan pendidikan serta kasih sayang orang tua.
“Kalau melihat undang-undang perlindungan anak yang bertanggung jawab atasnya adalah orang tua, keluarga kerabat, msyarakat dan negara. Disini harus ada peran yang seimbang, sehingga anak tidak mengalami kekerasan dan terlantar,” ucapnya yang juga seorang Aktivis anak.
Editor :Asiyah Afifah
Sumber :Radio Dakta

 

Narkoba Sasar Dunia Pendidikan, Generasi Minta BNN Bersinergi dengan Kemdikbud

KPAI Minta BNN – Kemendikbud RI Sinergi Berantas Narkoba

Published  on By  

Jakarta, Realitarakyat.com. – Belum lama diungkap oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)  tentang kasus baru peredaran narkoba yang dilakukan secara halus melalui kelompok belajar siswa berprestasi.

Dimana mereka diberi air minum yang sebelumnya sudah dicampur dengan zat adiktif. Air putih  yang dihidangkan ini terasa berbeda, yaitu memberikan rasa  menyenangkan hingga akhirnya menimbulkan kecanduan.

Demikian disampaikan Ena Nurjanah, Ketua Ketua Lembaga Generasi pada wartawan di Jakarta, Sabtu (10/3/2018).

Situasi yang penuh edukasi dalam kelompok belajar menurut Ena, ternyata telah menjadi  sasaran empuk bagi para pengedar narkoba. Kepolosan para siswa berprestasi, yang cenderung asyik dengan dunia akademis telah dimanfaatkan oleh para  perusak generasi bangsa.

Kasus itu terbilang modus baru dalam peredaran narkoba. Kejadian seperti ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah. “Sudah berkali-kali kita melihat anak-anak yang menjadi korban narkoba, melalui permen, pil dan lain sebagainya yang menyasar anak-anak sekolah,” ujarnya.

Jika pemerintah serius ingin menghindarkan para pelajar dari ancaman narkoba menurut Ena, maka harus ada program pencegahan dan sekaligus  penanggulangan bahaya narkoba di setiap sekolah.

“BNN harus lebih gencar lagi memberikan penyuluhan yang menyasar siswa di sekolah. Sudah saatnya dibangun sinergitas program yang berkesinambungan antara BNN dengan Kemendikbud. Tujuannya adalah agar semua siswa memiliki pemahaman mengenai bahaya narkoba,” jelas Ena.

Dunia pendidikan melalui Kemendikbud dan seluruh jajaran di bawahnya kata Ena, harus memiliki program yang jelas terencana dan masif terkait program pencegahan, sekaligus penanggulangan bahaya narkoba di lingkungan pendidikan.

KPAI juga tidak cukup hanya menyampaikan fakta yang terjadi dan himbauan saja, namun seharusnya KPAI juga turut mendorong dan melakukan pengawasan terhadap upaya Kemendikbud dan jajaran dinas pendidikan dalam melindungi anak-anak dari bahaya Narkoba.

“Tanpa adanya upaya bersama dari seluruh jajaran pemerintahan akan sulit tercapai upaya melindungi para pelajar dari ancaman bahaya narkoba,” pungkasnya.

KPAI Minta BNN – Kemendikbud RI Sinergi Berantas Narkoba