Kekerasan Seks, Generasi Pertanyakan Peran KPAI dan Pemerintah

Begitu dikatakan Ketua Gerakan Perlindungan Anak Asa Negeri (Generasi), Ena Nurjanah kepada redaksi telusur.co.id di Jakarta, Sabtu (10/3/18).

“Pemerintah pusat dan daerah harusnya selalu melakukan koordinasi,” ucap Ena.

Menurut Ena sebutan akrab Ena Nurjanah, tak hanya pemerintah, lembaga yang memiliki peran penting dalam pengawasan seperti Komisi Perlindungan anak Indonesia (KPAI) pun dinilai tidak maksimal dalam memperlihatkan kinerjanya.

“Lebih sering merespon peristiwa-persitiwa yang sudah terjadi, namun, tidak nampak adanya upaya-upaya pencegahan yang dilakukan secara sistematis agar kasus tidak berulang atau semakin bertambah banyak,” imbuhnya.

Koordinasi yang tidak terbangun secara baik antar lembaga perlindungan anak bentukan pemerintah dan stakeholder terkait di seluruh Indonesia juga menjadi penyebab kasus serupa selalu terulang.

Oleh sebab itu dirinya berharap KPAI, Pemerintah pusat dan Pemerintah daerah bersinergi agar kasus kekerasan seksual terhadap pelajar tidak terjadi kembali.

“Sudah saatnya semua pihak saling berkoordinasi dan melakukan pencegahan sejak dini agar tidak terulang kejadian serupa,” harapnya.[far]

Indonesia Darurat Kekerasan Seksual

REVOLUSIANA.COM- Kasus kekerasan seksual pada anak di sekolah masih saja terus terjadi. Seakan-akan tidak ada artinya berbagai pemberatan hukuman yang ditetapkan bagi para pelaku. Tidak memberikan efek jera bagi pelaku maupun calon-calon pelaku. Tinggal aparat kepolisian yang berjibaku dengan segudang tugas yang semakin banyak, karena meningkatnya kasus kekerasan seksual pada anak.

Berbagai kerja yang dilakukan para aktivis anak masih jauh panggang dari api. Masih jauh dari keberhasilan melindungi anak-anak. Bahkan terkesan keteteran. Karena berbagai kejadian terus saja terjadi dan hampir di seluruh pelosok tanah air.

Kerja-kerja yang dilakukan oleh lembaga pemerintahan yang menangani masalah anak pun belum kelihatan hasilnya. Lebih sering merespon peristiwa-persitiwa yang sudah terjadi, namun tidak nampak adanya upaya-upaya pencegahan yang dilakukan secara sistematis agar kasus tidak berulang atau semakin bertambah banyak.

Koordinasi yang tidak terbangun secara baik antar lembaga perlindungan anak bentukan pemerintah dan stakeholder terkait di seluruh Indonesia juga menjadi penyebab kasus serupa selalu terulang.

Kementerian Pendidikan melalui Dinas Pendidikan yang terdapat di seluruh daerah merupakan institusi yang berkaitan langsung dengan sekolah. Namun, institusi ini masih belum nampak tindakan nyata untuk memperbaiki dan membenahi sistem yang ada di sekolah, seperti memaksimalkan berbagai pendekatan yang holistik bagi keamanan dan kenyamanan anak di sekolah.

Jadi, kapankah kekerasan seksual dalam dunia pendidikan dapat dihentikan…???

Ketua Umum Gerakan Perlindungan Anak Asa Negeri (GENERASI), Ena Nurjanah

 

Solusi Kekerasan Seksual pada Anak Dinilai Masih Buntu

Redaktur: Ali Rahman

INDOPOS.CO.ID –

Kasus kekerasan seksual pada anak di sekolah masih saja terus terjadi. Nampaknya, berbagai upaya pemberatan hukuman yang ditetapkan bagi para pelaku tidak juga memberikan efek jera.
Menurut Ketua Gerakan Perlindungan Asa Negeri (Generasi) Ena Nurjanah, berbagai kerja yang dilakukan para aktivis anak masih jauh panggang dari api. Dengan kata lain masih jauh dari keberhasilan melindungi anak-anak.
“Bahkan ini (kekerasan seksual, red) terkesan keteteran. Karena berbagai kejadian terus saja terjadi dan hampir di seluruh pelosok tanah air,” ujar Ena dalam keterangan tertulisnya kepada INDOPOS, Jumat (2/3).
Dia menilai, sekarang ini hanya menyisakan aparat kepolisian yang berjibaku dengan segudang tugas yang menumpuk lantaran meningkatnya kasus kekerasan yang tidak hanya menyerang fisik namun secara mental juga terdampak.
Ena menambahkan, kerja-kerja yang dilakukan oleh lembaga pemerintahan yang menangani masalah anak pun belum kelihatan hasilnya. Hanya lebih sering merespon peristiwa-persitiwa yang sudah terjadi, namun tidak nampak adanya upaya-upaya pencegahan yang dilakukan secara sistematis agar kasus tidak berulang atau semakin bertambah banyak.
“Koordinasi yang tidak terbangun secara baik antar-lembaga perlindungan anak  bentukan pemerintah dan stakeholder terkait di seluruh Indonesia juga menjadi penyebab kasus serupa selalu terulang,” nilai Ena.
Secara ideal, Ena menyatakan, harusnya Kementerian Pendidikan melalui Dinas Pendidikan yang terdapat di seluruh daerah merupakan institusi yang berkaitan langsung dengan sekolah.  Namun, kata Ena, lagi-lagi institusi ini masih belum nampak tindakan nyata untuk memperbaiki dan membenahi sistem yang ada di sekolah, seperti memaksimalkan berbagai pendekatan  yang holistik bagi keamanan dan kenyamanan anak di sekolah.
“Jadi, kapankah kekerasan seksual dalam dunia pendidikan dapat dihentikan?” tukasnya. (jaa)

Generasi Sesalkan Penganiayaan Anak Oleh Orang Tuanya

 JUM’AT, 12/01/2018 06:15 WIB
Berita Penganiayaan Anak oleh Orangtua
JAKARTA_DAKTACOM: Kekerasan pada anak hingga menyebabkan kematian kembali terulang. Kali ini, seorang anak balita di Tasikmalaya menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan tantenya (D). Anak lelaki berusia dua tahun ini dibawa ke rumah sakit dalam keadaan kritis.
Selain tak sadarkan diri, korban mengalami lebam di tubuh saat tiba di RS Prasetya Bunda, Jalan Juanda, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (11/1) siang. Terdapat luka bakar di pipi dan bekas jeratan tali di kedua kaki balita malang tersebut.
Berdasarkan keterangan D kepada pihak rumah sakit, balita itu sudah satu bulan dititipkan kepadanya lantaran orang tuanya bercerai.
Aksi kekerasan itu dipicu kekesalan D lantaran keponakannya tersebut kerap menangis minta makan saat tengah malam.
“Apa yang salah dengan masyarakat kita? Mengapa begitu mudah menumpahkan kekesalan pada seorang anak kecil. Bahkan hingga sampai menghilangkan nyawanya,” kecam Ketua Lembaga Generasi, Ena Nurjanah saat dihubungi pada Jumat (12/01).
Bentuk-bentuk kekerasan pada anak, lanjut Ena, selama ini memang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat kita karena masih banyak para orangtua (dewasa) menganggap bahwa kekerasan sebagai bagian dari cara mendidik.
“Karena batasan kekerasan yang wajar tidak ada, maka lambat laun  cara mendidik dengan kekerasan semakin tak terbendung. Yang pada akhirnya, bukan lagi sebuah cara untuk mendidik, tapi lebih kepada melampiaskan amarah,” imbuhnya.
Menurut Ena, Undang-Undang Perlindungan Anak dibuat agar seluruh masyarakat Indonesia mulai meninggalkan cara-cara mendidik dengan kekerasan. Karena cara ini lebih banyak memberikan dampak negatif bagi perkembangan kehidupan seorang anak.
“Sayangnya masyarakat Indonesia masih sangat minim yang mengetahui akan hak-hak anak. Bahwa anak adalah aset bangsa yang harus dilindungi. Banyak orangtua masih melihat bahwa anak adalah milik pribadi yang bebas diperlakukan apa saja sekehendaknya,” sesalnya.
reporter : Boy Aditya
Editor: Azeza Ibrahim

Marak Kekerasan Anak, Sosialisasi UU Jadi Kebutuhan Mendesak

ByRedaksi1Posted on Januari 12, 2018

UU untuk Kekerasan Anak Lembaga Perlindungan Anak GENERASI

EGALITER.NET- Kembali terjadi, kekerasan pada anak hingga menyebabkan kematian

Kekerasan pada anak hingga menyebabkan kematian kembali terulang. Baru dua bulan yang lalu, kejadian yang hampir sama terjadi di wilayah Jakarta Barat, yaitu kematian seorang anak TK berusia 5 tahun di tangan ibu nya sendiri.

Kali ini, seorang anak balita di Tasikmalaya menjadi korban penganiayaan yang diduga dilakukan tantenya (D). Anak lelaki berusia dua tahun ini dibawa ke rumah sakit dalam keadaan kritis.

Selain tak sadarkan diri, korban mengalami lebam di tubuh saat tiba di RS Prasetya Bunda, Jalan Juanda, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Kamis (11/1/2018) siang.

Terdapat luka bakar di pipi dan bekas jeratan tali di kedua kaki balita malang tersebut.

Berdasarkan keterangan D kepada pihak rumah sakit, balita itu sudah satu bulan dititipkan kepadanya lantaran orang tuanya bercerai.

Aksi kekerasan itu dipicu kekesalan D lantaran keponakannya tersebut kerap menangis minta makan saat tengah malam.

Di hadapan polisi, D mengaku memukul dan mencubit korban. Namun ia mengelak luka bakar di pipi korban akibat sengaja disiram air panas. Menurut D, luka bakar itu karena korban tak sengaja menumpahkan kopi panas.

Apa yang salah dengan masyarakat kita? mengapa begitu mudah menumpahkan kekesalan pada seorang anak kecil. Bahkan hingga sampai menghilangkan nyawanya.

Bentuk-bentuk kekerasan pada anak, selama ini memang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat kita . Banyak para orangtua (dewasa) menganggap bahwa kekerasan sebagai bagian dari cara mendidik.

Karena batasan kekerasan yang wajar tidak ada, maka setiap orang bebas mengekspresikan kekerasan dengan caranya masing-masing. Lambat laun cara mendidik dengan kekerasan semakin tak terbendung. Yang pada akhirnya, bukan lagi sebuah cara untuk mendidik, tapi lebih kepada melampiaskan amarah.

Undang-undang Perlindungan Anak dibuat agar seluruh masyarakat Indonesia mulai meninggalkan cara-cara mendidik dengan kekerasan. Karena cara ini lebih banyak memberikan dampak negatif bagi perkembangan kehidupan seorang anak.

Sayangnya masyarakat Indonesia masih sangat minim yang mengetahui akan hak-hak anak. Bahwa anak adalah aset bangsa yang harus dilindungi. Anak adalah bagian dari keberlangsungan sebuah negara, sehingga harus dijaga, dilindungi, dan diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk tumbuh berkembang agar bisa menjadi penerus dan penjaga eksistensi bangsa ini.

Banyak orangtua masih melihat anak adalah milik pribadi yang bebas diperlakukan apa saja sekehendaknya. Seakan-akan anak tak tersentuh dari perlindungan negara. Padahal, Negara punya kewajiban untuk melindungi anak-anak.

Masyarakat harus paham, bahwa negara akan hadir membela anak-anak yang mengalami kekerasan. Para pelaku kekerasan akan dikenai sanksi pidana jika melakukan kekerasan dalam bentuk apapun terhadap anak.

Upaya sosialisasi Undang-Undang Perlidungan Anak sudah menjadi kebutuhan mendesak dan harus dilakukan oleh setiap elemen. Baik pemerintah, masyarakat/lembaga yang peduli tentang perlindungan anak, terlebih media.

Media memiliki peran yang sangat berarti apalagi di era digital saat ini. Pemahaman masyarakat akan Perlindungan Anak akan lebih cepat tersampaikan dan lebih massif melalui peran serta media.Pada akhirnya, media punya andil besar untuk mencerdaskan masyarakat dalam melindungi anak-anak Indonesia.[]

 

Remaja Australia ‘ ikon topi Akubra’ menjadi korban cyberbullying

Kasus bullying di media sosial kembali menelan korban jiwa. Kali ini menimpa mantan bintang iklan cilik.  Seorang remaja Australia berusia 14 tahun ,  Amy “Dolly” Everett yang  terkenal dengan iklan  topi koboy khas Australia “Akubra” saat ia berusia 8 tahun.

Amy “Dolly” Everett meninggal dengan melakukan bunuh diri . Dolly  mengakhiri hidupnya sendiri setelah mendapatkan bullying dan pelecehan melalui media sosial.

Kabar ini terungkap dari postingan Facebook ayah  Dolly, yang menyerukan agar setiap orang  lebih menyadari bahaya cyberbullying   yang bisa mengambil nyawa siapa saja. Ayah Dolly berharap agar lebih banyak nyawa yang bisa terselamatkan. Ia berharap  kematian putrinya menjadi cambuk agar tidak terjadi lagi pada siapapun, sehingga kematian putrinya akan memberi makna kehidupan pada setiap orang dan  tidak menjadikannya sia-sia.

Akubra juga menyampaikan belasungkawa dan mengeluarkan seruan agar ‘melawan’  segala bentuk bullying. ‘Dolly bisa menjadi anak perempuan siapa saja’.  “Bullying  jenis apa pun tidak dapat dibenarkan ,” tulis perusahaan itu di Facebook pada hari Selasa. “Kita harus bisa melawan  saat  melihat perilaku intimidasi. Dolly bisa menjadi representasi  anak perempuan, saudara perempuan,atau  teman kita.”

Dalam postingan emosionalnya di  Facebook pada hari minggu, ayah Dolly, Tick Everett, tidak memberikan rincian bentuk bullying tersebut, namun dia mengatakan bahwa putrinya  ingin “melarikan diri dari kejahatan di masa depan ini”. Dia berharap kematian Dolly  bisa menjadi perhatian semua pihak  dan dapat “melindungi  kehidupan berharga anak-anak lainnya agar tidak terjadi lagi hal yang sama”. Dia juga mengundang para pelaku bullying untuk datang  ke pemakaman Dolly, sambil  mengatakan: “Jika para pelaku menganggap kematian Dolly sebagai  candaan dan merasa diri mereka  superior karena bullying dan pelecehan terus-menerus , tolong datang ke rumah kami dan saksikan kehancuran yang telah  Anda ciptakan. “

Pada hari Rabu, keluarga tersebut merilis sebuah pernyataan ke media bahwa  Dolly telah menjadi “jiwa yang paling baik, penuh perhatian, dan sangat manis”. “Dia penyayang hewan, anak kecil, dan anak-anak panti  yang kurang beruntung .”

Menurut penyiar ABC Australia, keluarga tersebut juga mengatakan bahwa mereka ingin  meningkatkan kesadaran setiap orang  akan bahaya cyberbullying , kecemasan, depresi dan bunuh diri dikalangan anak muda.

Data dari Pusat Nasional Penanggulangan Bullying Australia (NCAB),  tingkat bullying  secara keseluruhan  sedikit menurun dalam dekade terakhir, namun cyberbullying  justru mengalami peningkatan tajam.

“Yang sangat  berbeda dalam cyberbullying  adalah bahwa tindakan  cyberbullying  bisa konstan, 24/7,” Jeremy Blackman dari NCAB mengatakan kepada BBC.

“Faktor besar lainnya adalah anonimitas di internet,” katanya, Hal ini dapat membuat lebih sulit bagi orang untuk merasakan empati terhadap korbannya.

“Ini  artinya akan  lebih banyak anak bisa menjadi pengganggu,” katanya.

Meskipun ada layanan dan jalur bantuan yang tersedia, remaja seringkali  enggan melaporkan saat mereka menjadi korban bullying, menurut NCAB, mereka hanya bisa  membantu ketika situasinya sudah sangat membahayakan .

Kematian Dolly telah memunculkan  dukungan yang luar biasa dari teman, keluarga, dan simpatisan di seluruh negeri. Survei di Australia telah menemukan sekitar seperempat pelajar  berusia 8 sampai 14 tahun  melaporkan bahwa mereka pernah diintimidasi

Tidak ada statistik resmi tentang kasus bunuh diri karena bullying. Angka bunuh diri nasional di Australia saat ini menurun, namun kasus bunuh diri pada  orang dengan rentang usia  antara 15 dan 24  tahun mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Australia telah menyediakan kontak layanan bagi korban bullying melalui  Lifeline di 131114, Kids Helpline di 1800 55 18000 atau mengunjungi situs National Center Against Bullying.

sumber: http://www.bbc.com ; http://www.telegraph.co.uk

Presiden: Pembangunan Karakter Cegah Kekerasan Seksual Anak

JAKARTA – Presiden Joko Widodo mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menanggulangi tindak kekerasan seksual pada anak, salah satu caranya adalah membangun karakter bangsa agar peristiwa serupa tidak terus terulang.

“Memang pembangunan karakter bangsa, manusia, sumber daya manusia menjadi hal yang sangat penting dalam menjaga itu,” kata Presiden usai meresmikan pembangunan embung Saina, di Kabupaten Rote Ndao, NTT, Selasa.

Presiden mengakui bahwa kekerasan seksual pada anak ini sering terjadi, secara tidak langsung juga pengaruh negatif teknologi.

“Tapi memang secara tidak sadar, teknologi juga mengintervensi karakter-karakter kita secara tidak langsung,” katanya menanggapi pertanyaan jurnalis.

Ketika ditanya mengenai hukuman bagi para pelaku tindak kekerasan seksual pada anak yang telah diberlakukan, Kepala Negara mengatakan bahwa melalui peraturan tersebut pemerintah sudah memberikan ruang bagi pengadilan untuk memberikan efek jera.

Jokowi juga mengingatkan bahwa hal tersebut tetap berada di ranah hukum.

“Ranahnya di ranah hukum. Keputusannya ada di sana. Tapi ruang itu sudah disediakan untuk efek jera. Kalau keputusan pengadilan ada ya kita eksekusi,” ucapnya. (Ant)

sumbber : https://www.cendananews.com/

GENERASI dan Dinas Pendidikan Kota Depok: Langkah menuju Kegiatan Hari Anak Internasional 20 November

Lembaga Perlindungan Anak Generasi di Kota Depok

Pada Senin (23/10), pengurus Generasi melakukan kunjungan ke kantor Dinas Pendidikan Kota Depok. Tujuan kunjungan tersebut adalah untuk memperkenalkan keberadaan Lembaga Generasi sekaligus membicarakan Program Kegiatan Hari Anak Internasional yang akan diadakan di salah satu Sekolah Dasar yang ada di wilayah Kota Depok.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Ibu Ena selaku Ketua Lembaga Generasi dan Ibu Rini selaku Sekretaris Umum. Adapun dari pihak Dinas Pendidikan dihadiri oleh Bapak Mulyadi selaku Kepala Bagian Pendas dan Ibu Dyah Haerani Kasi Pendas Disdik Kota Depok.

Pembicaraan diawali dengan perkenalan Lembaga Generasi sebagai lembaga perlindungan anak yang keberadaannya bersinergi dengan kota layak anak yang dicanangkan oleh kota Depok.

Pertemuan pun dilanjutkan dengan pembicaraan mengenai rencana Kegiatan Hari Anak Internasional yang jatuh pada tanggal 20 November mendatang.

Lembaga Generasi menjelaskan mengenai maksud dan tujuan penyelenggaraan acara tersebut sekaligus juga meminta masukan kepada Kabag dan Kasi Pendas mengenai sekolah yang bisa dilibatkan dan agenda acara yang akan dilakukan.

Sambutan dari pihak Disdik Depok sangatlah positif dan mendukung langkah yang diambil oleh Generasi. Mereka siap untuk memberikan support perihal teknis birokrasi Disdik Kota Depok, dan Generasi pun diminta untuk berkomunikasi secara langsung dengan Kepala Dinas Pendidikan Kota Depok untuk menginformasikan acara tersebut.

Dukungan Wakil Walikota Depok untuk GENERASI

Pertemuan dengan Wakil Walikota Depok

Pada Sabtu (21/10) pukul 11 siang lalu, pengurus Generasi berkunjung ke rumah Wakil Walikota Depok, Bapak Pradi untuk memperkenalkan lembaga Generasi (Gerakan Perlindungan Anak Asa Negeri) kepada beliau.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh ketua Generasi Ibu Ena Nurjanah, Sekretaris Umum Ibu Rini Lestiawati, Divisi Humas Ibu Enden Hariyani, serta Bapak Mabrur.

Kedatangan pengurus disambut hangat oleh Bapak Pradi di kediamannya. Disampaikan bahwa beliau sangat mendukung keberadaan Lembaga Generasi sebagai lembaga yang bergerak di bidang perlindungan anak. Menurut beliau, pemerintah tidak bisa menangani seluruh persoalan yang ada di Kota Depok sehingga sangat dibutuhkan adanya peran serta stakeholder lain. Dalam hal ini keberadaan Generasi akan sangat bermanfaat untuk turut mendukung keberadaan Kota Depok yang sudah mencanangkan diri sebagai kota layak anak.

Beliau bersedia untuk hadir dalam kegiatan dan acara yang akan diselenggarakan oleh Generasi. “Asal pemberitahuannya jauh2 hari, paling tidak 2 minggu sebelumnya, agar bisa mengagendakan waktunya dan tidak bentrok dengan kegiatan lain” demikian ungkap Bapak Pradi.

Perbincangan dengan Bapak Pradi begitu menyenangkan. Beliau menceritakan bagaimana kehidupan masa muda beliau yang penuh perjuangan dan kerja keras untuk meraih pendidikan yang lebih baik. Di masa mudanya beliau dikenal sebagai anak yang cerdas, giat berorganisasi dan ternyata juga memiliki hobi menyanyi, hingga menciptakan sebuah lagu yang kata beliau akan segera dirilis.

Anak-anak beliau juga sukses mengenyam pendidikan bahkan ada yang sedang kuliah di luar negeri dengan mendapatkan program beasiswa. Perbincangan pengurus Generasi dengan beliau berlangsung hingga hampir 1 jam lamanya. Berhubung padatnya jadwal, juga masih ada tamu yang menunggu untuk bertemu dengan beliau, pengurus pu izin pamit dengan diakhiri foto bersama.